• Status Order
  • Tlp: 0298-593880
  • SMS/WA: 085600513555
  • Line : mahananionlineshop
  • BBM : D7E0EB75
  • csjilbabcinta@gmail.com
Terpopuler:

Tinjauan Hukum Islam Tentang Penundaan Haid

14 July 2016 - Kategori Blog
wanita haid

darah

Menstruasi atau haid terjadi secara periodik pada semua perempuan yang sehat yang memiliki organ reproduksi sehat juga. Haid bahkan bisa menjadikan indikator kesuburan. Namun siklus bulanan tersebut kerap menjadi masalah bagi wanita misalnya ibadah haji karena hukum Islam melarang wanita yang sedang haid melakukan ibadah.

Teknologi terkini di bidang terapi hormonal telah memungkinkan pengaturan waktu terjadinya haid secara tetap sesuai keinginan bisa dimajukan atau dimundurkan. Selain berkaitan dengan ibadah keinginan mendapatkan hari bebas haid juga bisa berhubungan dengan karir atau acara khusus tertentu seperti bulan madu.

Dalam menghadapi persoalan ini ternyata para ulama berbeda pendapat tentang hukum kebolehan menggunakan obat penunda atau pencegah haid. Sebagian besar ulama membolehkan namun sebagian lainnya tidak membolehkan.
1. Kalangan yang membolehkan
Di antara ulama yang berpendapat boleh adalah sebagai berikut:
a. Sayyid Sabiq dalam kitab fiqih sunnah
Di kalangan sahabat Nabi SAW ada Ibnu Umar r.a. yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur bahwa beliau telah ditanya orang tentang hukum seorang wanita haid yang meminum obat agar tidak mendapat haid lantaran agar dapat mengerjakan tawaf. Maka beliau membolehkan hal tersebut. Muhibbudin Tabary berkata jika terhentinya haid dalam keadaan seperti ini dapat diakui maka hendaklah diakui pula terhentinya itu dalam menghitung berakhirnya masa haid dan bentuk-bentuk kasus lainnya. Demikian pula jika meminum obat yang merangsang munculnya haid berdasarkan persamaan diantara keduanya.
b. Abdullah Abdul Aziz Bin Baz dalam kitab fatawa Tata Ahkam Al Haji Wal Umroh all ziyarah
Seorang wanita boleh menggunakan obat pencegah haid pada waktu haji karena khawatir akan kebiasaannya haid akan tetapi harus berkonsultasi kepada dokter khusus Karena untuk menjaga keselamatan wanita. Demikian juga pada Bulan Ramadhan apabila berkeinginan untuk berpuasa bersama-sama dengan masyarakat umum atau orang banyak.
c. Ahmad bin Abdul Rozak Ad- Duwaisy dalam kitab fatawa al-lajnah ad-daImah Lil buhuts al-ilmiah Wa al ifta
Boleh bagi seorang wanita untuk mengkonsumsi pil penunda haid agar dapat melaksanakan puasa dibulan Romadhon. Anda tidak diharuskan untuk mengqodho hari-hari puasa yang telah anda lakukan bersama sama yang lainnya dengan mengkonsumsi pil pencegah haid.

d. Menurut Yusuf Al Qardhawi tokoh fiqih kontemporer bahwa wanita dapat saja menggunakan obat penunda haid dengan syarat:
1. Kekhawatiran Haji dan puasanya tidak sempurna jika ia tidak menggunakannya
2. Kekhawatiran akan mengalami kesulitan dalam mengqadha puasanya kelak
3. Obat penunda haid tersebut tidak membawa efek mudhorot baginya
Alasan itu didasarkan kepada tidak adanya Nash yang syar’i melarang penundaan haid

e. Keputusan komisi fatwa MUI tahun 1984 tentang kebolehan penggunaan obat penunda haid untuk kepentingan ibadah haji dan puasa

2. Pendapat yang mengharamkan
Salah satu ulama yang melarang penggunaan pil penunda haid adalah Syeikh Al Utsaimin dalam majmu fatawa Al utsaimin sebagai berikut:
Syaikh Ibnu utsaimin ditanya: saya seorang wanita yang mendapatkan haid di bulan yang mulia ini tepatnya sejak tanggal 25 Ramadhan hingga akhir bulan Ramadhan jika saya mendapatkan haid maka saya akan kehilangan pahala yang amat besar Apakah saya harus menelan pil pencegah haid karena saya telah bertanya kepada dokter lalu ia menyatakan bahwa pil pencegah haid itu tidak membahayakan diri saya?

Beliau menjawab:” saya katakan kepada wanita-wanita ini dan wanita-wanita lainnya yang mendapatkan haid di bulan Ramadhan bahwa haid yang mereka alami itu walaupun pengaruh dari haid itu mengharuskannya meninggalkan shalat membaca al-quran dan ibadah-ibadah lainnya adalah merupakan ketetapan Allah maka hendaknya kaum wanita bersabar dalam menerima hal itu semua maka dari itu nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda kepada Aisyah yang kala itu sedang haid, “artinya: sesungguhnya haid itu adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan kepada kaum wanita”. Maka kepada wanita ini kami katakan bahwa haid yang dialami oleh dirinya adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan bagi kaum wanita maka hendaklah wanita itu bersabar dan janganlah menjerumuskan dirinya ke dalam bahaya sebab kami telah mendapat keterangan dari beberapa orang dokter yang menyatakan bahwa pil pil pencegah kehamilan berpengaruh buruk pada kesehatan dan Rahim penggunanya bahkan kemungkinan pil-pil tersebut akan memperkeruh kondisi janin wanita hamil.”

Syekh al-utsaimin ditanya oleh seseorang: ” apakah boleh seorang wanita menggunakan pil penunda haid pada Bulan Ramadhan dan lainnya?
Beliau menjawab: ” menurut hemat saya dalam masalah ini agar para wanita tidak menggunakannya baik di bulan Ramadhan maupun lainnya karena menurut para dokter hal itu menimbulkan bahaya yang sangat besar bagi rahim urat syaraf dan darah. Dan segala sesuatu yang menimbulkan bahaya adalah dilarang.
Padahal Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah bersabda:
” Janganlah kamu melakukan tindakan yang membahayakan dirimu dan orang lain.” dan kami telah mengetahui dari mayoritas wanita yang menggunakannya bahwa kebiasaan haid mereka berubah dan menyibukkan para ulama membicarakan masalah tersebut. Maka yang paling benar adalah tidak menggunakan obat tersebut selamanya baik di bulan Ramadhan maupun lainnya.